27 November 2007

Jawa dan Kalimantan

Cerita tentang perbedaan antara Jawa dan Kalimantan sudah banyak saya alami. Jawa itu ibarat surga dan Kalimantan adalah dunia fana. Orang Jawa hanya bersedia pergi ke Kalimantan kalau terpaksa. Disini mereka memulai karir dari nol, atau mulai menjadi pengusaha dari golongan gerobak bakso. Impian mereka hampir selalu sama. Jika sudah kaya pulanglah ke Jawa, tinggalkan tanah Kalimantan yang belum beradab karena disini hanya ada perahu dan pasar terapung. Kalau menjadi pegawai, jika sudah status pegawai tetap usahakan bagaimanapun caranya supaya mutasi ke Jawa. Atau boleh juga tetap di Kalimantan tapi dengan imbalan harus naik pangkat dan menduduki posisi penting. Terjadilah sikap diskriminatif. Penduduk asli hanya boleh jadi bawahan atau rakyat jelata, tidak boleh menempati posisi penting. Sampai kapan kita memelihara sikap seperti ini? Sampai kapan kita bangga dengan kesombongan dan tinggi hati? Entahlah, tapi lihatlah apa yang dialami pulau Jawa beberapa waktu terakhir ini. Banjir bandang di Jakarta semakin sering dan semakin tinggi, badai tsunami, gempa Yogya, Lumpur Lapindo dan beberapa kali letusan gunung berapi. Sungguh kami di pulau Kalimantan merasa prihatin atas peristiwa-peristiwa tersebut. Tapi dibalik semua itu ada baiknya kita merenung, apakah bencana tersebut terjadi begitu saja, atau sebagai peringatan atas kesombongan kita?